Deskripsi produk
Pengantar Akidah Maturidiyah
Menyingkap Inti Ajaran Akidah
Judul asli : Syarḥ al-’Aqâid an-Nasafiyyah
Penulis : Imam at-Taftazani
Penerjemah : Husni Nasution
E-ISBN : 978-623-8661-14-5
Di tengah dinamika intelektual abad ke-14, Imam at-Taftazani menyusun Syarḥ al-’Aqâid
an-Nasafiyyah, sebuah komentar mendalam atas al-’Aqâid an-Nasafiyyah karya Imam
an-Nasafi, teolog Mazhab Maturidiyah. Karya ini bukan hanya penjelasan, melainkan sintesis
brilian antara tradisi Maturidiyah yang rasional dengan corak Asy’ariyah yang tekstual,
sekaligus benteng argumen melawan aliran filsafat dan teologi yang dianggap menyimpang.
Imam at-Taftazani membuka pembahasannya dengan tauhid, menguraikan sifat-sifat Allah
dengan ketelitian logis. Ia membagi sifat Ilahi menjadi dzâtiyah dan fi’liyah sambil menolak
keras antropomorfisme—menegaskan transendensi mutlak Allah. Di sini, ia berpolemik
dengan Mu’tazilah yang membatasi kehendak Allah melalui konsep “keadilan” manusiawi,
seraya menekankan kekuasaan-Nya yang absolut atas takdir. Namun, ia tak terjebak dalam
determinisme; melalui konsep kasb (usaha manusia), ia merajut harmoni antara kuasa ilahi
dan kebebasan terbatas manusia, layaknya tarian metafisik antara takdir dan ikhtiar.
Melangkah ke ranah kenabian, Imam at-Taftazani memaparkan mukjizat sebagai bukti tak
terbantahkan kebenaran Nabi Muhammad. Ia menegaskan kemurnian para nabi dari dosa
(maksum) dan menutup pintu kenabian setelah Rasulullah (khatam an-nubuwwah), seraya
menepis klaim kelompok sempalan. Narasinya dipenuhi kebanggaan akan Islam sebagai
agama final, dengan syariat yang sempurna dan universal.
Ketika membahas hari akhir, ia tak hanya menggambarkan surga-neraka secara imajinatif,
tetapi juga membangun argumentasi rasional tentang kebangkitan jasmani. Dengan analogi
kuasa Allah yang mencipta dari ketiadaan, ia menjawab skeptisisme filsuf yang meragukan
kebangkitan tubuh hancur. Timbangan amal (mîzân) dan jembatan di atas neraka (shirâth) ia
jelaskan sebagai simbol keadilan ilahi, bukan sekadar alegori.
Pada puncaknya, Imam at-Taftazani menyentuh hakikat iman. Baginya, iman ialah
pembenaran hati dan pengakuan lisan—tanpa mensyaratkan kesempurnaan amal. Di sini, ia
bersitegang dengan Khawarij yang menyempitkan iman pada ritual, atau Mu’tazilah yang
mengaitkannya dengan moralitas. Baginya, pelaku dosa besar tetap muslim selama tak
mengingkari hukum Allah (istiḥlâl), sebuah prinsip inklusivitas yang menjadi jiwa